Bukan Debat Biasa: Sinergi Intelektual dan Etika di Balik Suksesnya PEMIRA 2026
08 April 2026 | Intan | 123 kali dilihat
Banjarmasin | STIKES ISFI News. Aura kompetisi yang sehat menyelimuti Aula STIKES ISFI Banjarmasin pada Rabu (8/4/2026). Ratusan mahasiswa berkumpul untuk menyaksikan momen krusial dalam perjalanan organisasi mereka: Debat Pemilu Raya Mahasiswa (PEMIRA) 2026. Agenda ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan tahapan vital untuk menguji kelayakan calon Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) periode 2026–2027.
Mengusung tema strategis “Cerdas Memilih, Cerdas Memimpin: Mewujudkan Pemimpin yang Berkualitas, Berintegritas, Totalitas, dan Profesional,” PEMIRA tahun ini menitikberatkan pada kualitas kepemimpinan yang adaptif dan beretika. Melalui debat ini, mahasiswa ditantang untuk menjadi pemilih yang rasional dengan membedah isi kepala para calon pemimpin mereka.
Panggung demokrasi kali ini mempertemukan dua pasangan calon (Paslon) yang membawa latar belakang keilmuan berbeda. Pasangan nomor urut 1, Noor Azkiya dan Ridho Alfarizi, merupakan representasi dari Program Studi S1 Farmasi Klinis dan Komunitas. Sementara itu, pasangan nomor urut 2, M. Rizky Adie Pratama dan Bulkis, hadir membawa aspirasi dari Program Studi D3 Farmasi.
Ketajaman visi kedua paslon diuji secara langsung oleh dua panelis yang ahli di bidangnya. apt. Muhammad Faqih, M.Farm. dan apt. Dwi Rizki Febrianti, M.Farm., memberikan tekanan melalui pertanyaan-pertanyaan strategis yang memaksa kandidat keluar dari zona nyaman. Keduanya bertindak sebagai penguji intelektual, memastikan bahwa setiap janji kampanye memiliki landasan yang realistis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Acara dibuka dengan khidmat melalui lantunan doa dan nyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya, diikuti Mars STIKES ISFI Banjarmasin serta Mars Mahasiswa. Prosesi ini menegaskan bahwa kepemimpinan mahasiswa haruslah berakar pada nilai nasionalisme dan semangat kebersamaan.
Dalam sambutannya, Ketua STIKES ISFI Banjarmasin memberikan arahan penting mengenai esensi demokrasi yang sehat. Beliau menekankan bahwa pilihan yang diambil hari ini akan menentukan wajah kemahasiswaan satu tahun ke depan, sehingga kejujuran dan tanggung jawab harus menjadi landasan utama bagi setiap pemilih.
Memasuki sesi debat antar paslon—bagian yang paling dinantikan—aula berubah menjadi arena adu argumentasi yang dinamis. Kedua pasangan calon saling membedah program kerja, menawarkan solusi atas isu-isu kemahasiswaan, hingga beradu perspektif mengenai inovasi kegiatan kampus. Diskusi semakin hidup saat audiens diberikan kesempatan bertanya secara langsung, menciptakan ruang dialog dua arah antara calon pemimpin dan konstituennya.
Tidak hanya fokus pada kursi BEM, kegiatan ini juga menjadi ajang pengenalan bagi para kandidat Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) serta pasangan calon Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS). Hal ini menunjukkan adanya regenerasi kepemimpinan yang menyeluruh di setiap tingkatan organisasi kampus.
Di akhir acara, para panelis memberikan feedback konstruktif sebagai evaluasi atas performa kandidat. Masukan ini menjadi modal berharga bagi para paslon untuk mematangkan kesiapan mental dan manajerial mereka sebelum benar-benar memimpin.
Debat PEMIRA 2026 ini bukan sekadar tentang siapa yang paling pandai berorasi, melainkan sebuah laboratorium demokrasi. Melalui kegiatan ini, STIKES ISFI Banjarmasin sukses memfasilitasi mahasiswa untuk belajar menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral dan profesional demi membawa organisasi kemahasiswaan menuju level yang lebih tinggi.(wps2026)
info pendaftaran PMB & PSPPA:
https://pmb.stikes-isfi.ac.id/isfi/pmb
https://psppa.stikes-isfi.ac.id/