PKM PIMNAS Akademik

Dari Secarik Kertas Jadi Judul PKM, Metode Unik Eko Hari Parmadi di STIKES ISFI

23 January 2026 | Intan | 17 kali dilihat


Banjarmasin | STIKES ISFI Banjarmasin. Suasana Aula STKES ISFI Banjarmasin pada Selasa (20/1/2026) tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada pembukaan panjang dengan slide presentasi penuh teks, tidak pula diskusi yang kaku dan formal. Sebaliknya, para dosen peserta Workshop Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) justru diminta melakukan hal sederhana namun tidak biasa: menuliskan satu kata yang ada di pikiran mereka pada selembar kertas.

Permintaan tersebut datang dari Bapak Eko Hari Parmadi, S.Si., M.Kom, Dosen Tetap Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang hadir sebagai pemateri dalam workshop bertema “Gali Ide, Asah Gagasan, Raih Prestasi dan Sukses PKM Nasional 2026”. Metode sederhana itu menjadi pintu masuk menuju sesi kreatif yang membuka cara pandang baru para dosen dalam menggali ide dan mendampingi mahasiswa PKM.

Workshop PKM ini merupakan bagian dari upaya strategis STIKES ISFI Banjarmasin dalam memperkuat budaya akademik dan prestasi mahasiswa. Program Kreativitas Mahasiswa tidak hanya diposisikan sebagai ajang kompetisi, tetapi sebagai ruang pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dalam konteks ini, peran dosen menjadi sangat penting. Dosen tidak hanya bertindak sebagai pembimbing administratif, tetapi juga sebagai fasilitator ide, pengarah gagasan, dan pendamping proses berpikir mahasiswa. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dosen dalam memahami pola pikir PKM menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan.

Bapak Eko Hari Parmadi dikenal sebagai pakar yang memiliki pengalaman luas di bidang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Pusat Prestasi Nasional Mahasiswa (PINMAS). Selama bertahun-tahun, ia aktif mendampingi mahasiswa, mereview proposal, hingga terlibat dalam proses penilaian PKM tingkat nasional.

Pengalaman tersebut membentuk pendekatan khas dalam setiap sesi yang ia bawakan. Bagi pak Eko, tantangan terbesar dalam PKM bukan terletak pada kurangnya ide, melainkan pada ketidakberanian untuk memulai dan kecenderungan menganggap ide sederhana sebagai sesuatu yang tidak layak dikembangkan.

Dalam sesi utama workshop, Pak Eko meminta setiap dosen peserta menuliskan satu kata yang sedang ada di pikiran mereka. Tidak ada batasan topik, tidak ada kriteria akademik yang ketat. Kata tersebut harus muncul secara spontan dan jujur. Instruksi itu kemudian diulang hingga tiga kali, sehingga setiap dosen menuliskan tiga kata pada tiga lembar kertas berbeda. Dari latihan ini, muncul beragam kata yang mencerminkan isu sosial, kesehatan, dan kemanusiaan.

Beberapa kata yang muncul di antaranya “Korupsi”, “Farmasi”, “Kesehatan”, “Mental”, dan “Bullying”. Kata-kata tersebut menunjukkan kepekaan peserta terhadap persoalan nyata yang ada di masyarakat dan relevan dengan bidang keilmuan kesehatan. Setelah seluruh peserta selesai menulis, Pak Eko meminta para dosen untuk menukarkan ketiga lembar kertas tersebut dengan peserta di bangku sebelah. Dalam sekejap, setiap dosen tidak lagi memegang kata yang ia tulis sendiri, melainkan kata-kata dari sudut pandang orang lain.

Dari sinilah proses kreatif dimulai. Para dosen diminta menyusun satu judul proposal PKM berdasarkan tiga kata yang mereka terima. Tantangan ini memaksa peserta untuk berpikir lintas isu dan menghubungkan kata-kata yang tampak tidak berkaitan. Misalnya, bagaimana mengaitkan isu korupsi dengan kesehatan dan mental? Atau bagaimana mengolah kata farmasi, bullying, dan kesehatan menjadi sebuah program yang aplikatif dan relevan. Suasana aula pun berubah menjadi ruang diskusi yang hidup. Para dosen terlihat mencoret-coret kertas, berdiskusi singkat, dan tertawa saat menyadari betapa menantangnya merangkai ide dari kata-kata sederhana.

Ketika waktu yang diberikan berakhir, Pak Eko meminta para dosen menyebutkan judul proposal yang berhasil mereka susun. Beragam judul inovatif pun muncul, menunjukkan bahwa ide sederhana dapat berkembang menjadi gagasan proposal yang potensial jika diolah dengan sudut pandang yang tepat. Menurut Pak Eko, metode ini bertujuan melatih keberanian berpikir dan kemampuan asosiasi. Ia menegaskan bahwa dalam PKM, ide tidak harus langsung sempurna. “Yang terpenting adalah berani memulai. Ide bisa diasah, dikritisi, dan disempurnakan seiring proses pendampingan,” jelasnya.

Metode ini juga membantu dosen memahami proses berpikir mahasiswa, sehingga pendampingan PKM dapat dilakukan dengan lebih empatik dan konstruktif. Kata-kata yang digunakan dalam latihan ini sangat relevan dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Isu kesehatan dan farmasi dapat dikembangkan menjadi kegiatan pendidikan dan penelitian. Isu bullying dan mental dapat diarahkan pada pengabdian kepada masyarakat. Sementara isu korupsi dapat diangkat sebagai nilai integritas dalam pelayanan kesehatan.

Dengan demikian, PKM menjadi ruang integratif yang menjembatani kegiatan akademik dosen dan mahasiswa. Sebagai pakar PKM dan PINMAS, Pak Eko menekankan bahwa persaingan PKM di tingkat nasional semakin ketat. Oleh karena itu, kesiapan dosen dalam mendampingi mahasiswa sejak tahap awal menjadi kunci keberhasilan. Workshop ini diharapkan menjadi bekal penting bagi dosen STIKES ISFI Banjarmasin dalam menghadapi PKM Nasional 2026, sekaligus memperkuat peran dosen dalam menciptakan ekosistem akademik yang kreatif dan berdaya saing.

Melalui workshop ini, STIKES ISFI Banjarmasin menegaskan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang terbuka, kolaboratif, dan inovatif. Dari satu kata sederhana, lahir kesadaran bahwa ide dapat tumbuh, gagasan dapat diasah, dan prestasi dapat diraih melalui proses yang tepat. Dari tiga lembar kertas dan satu kata, para dosen belajar bahwa kreativitas bukan bakat semata, melainkan keterampilan yang bisa dilatih—dan PKM menjadi ruang ideal untuk mewujudkannya.(Intan2026)

info pendaftaran PMB & PSPPA:
https://pmb.stikes-isfi.ac.id/isfi/pmb
https://psppa.stikes-isfi.ac.id/


Berita Lainnya


Pilar Utama Kemajuan Kampus, STIKES ISFI Banjarmasin Muliakan Pengabdian Dosen Selama 10 Tahun

22 January 2026 | Intan

Baca Selengkapnya

Tingkatkan Kualitas Evaluasi Akademik, Delegasi Dosen Ikuti Workshop Penguji OSCE di Depok

22 January 2026 | Intan

Baca Selengkapnya

Membangun Mental Kompetitif: Mahasiswa Farmasi Gembleng Kreativitas dalam Forum Review PKM Nasional

22 January 2026 | Intan

Baca Selengkapnya