Cahaya di Atas Cahaya: Menjemput Mi’raj dalam Sujud Kita
16 January 2026 | Intan | 9 kali dilihat
Banjarmasin | OPINI. Di balik gemerlap dunia yang tak pernah tidur, umat Islam kembali diingatkan pada sebuah memori agung yang terjadi ribuan tahun silam. Sebuah peristiwa yang melampaui batas logika manusia dan menembus sekat ruang serta waktu. Isra Mi’raj bukan sekadar catatan sejarah dalam kalender hijriah, melainkan sebuah perjalanan vertikal yang membawa pesan abadi tentang harapan, keteguhan, dan pertemuan intim antara hamba dengan Sang Pencipta di saat titik terendah kehidupan.
Peristiwa ini bermula di tengah suasana duka yang menyelimuti Rasulullah SAW, yang dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Di titik terendah kemanusiaan inilah, Allah SWT menurunkan undangan istimewa ke singgasana Arsy. Sebagaimana yang termaktub dalam Kitab Suci Al-Qur'an, Surat Al-Isra ayat 1:
“ Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui .”
Narasi Isra Mi’raj pada hakikatnya tidak berhenti di Sidratul Muntaha. Fokus utama dari perjalanan ini adalah sebuah kado agung bagi umat manusia, yakni perintah shalat lima waktu. Dalam berbagai literatur Islam, para ulama menegaskan sebuah tesis spiritual bahwa shalat adalah " Mi’rajul Mu’minin ", sebuah sarana bagi orang beriman untuk mendaki menuju Tuhan.
Penjabaran mengenai shalat sebagai Mi’raj ini dapat kita selami mulai dari momentum Takbiratul Ihram, yang secara simbolis merupakan saat di mana seorang hamba melakukan "lepas landas" spiritual. Ketika tangan diangkat dan asma Allah dikumandangkan, seseorang sesungguhnya sedang meninggalkan gravitasi duniawi; melepaskan beban urusan, ambisi, dan kekhawatiran yang selama ini membelenggu pundaknya untuk kemudian memasuki ruang tanpa batas di hadapan Dzat yang Maha Besar.
Perjalanan ini berlanjut pada kedalaman dialog yang tercipta di setiap rakaat. Jika di langit ketujuh Rasulullah berbicara tanpa perantara, maka dalam shalat, setiap untaian Surat Al-Fatihah yang dibaca adalah sebuah audiensi langsung. Di sana terjadi komunikasi dua arah yang sangat intim, di mana pujian hamba dijawab langsung oleh Tuhan dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Hingga akhirnya, perjalanan ini mencapai puncaknya pada gerakan sujud. Inilah " Sidratul Muntaha " bagi setiap jiwa, sebuah paradoks spiritual yang indah di mana saat dahi menyentuh posisi terendah di bumi, di saat itulah ruh manusia justru berada di titik tertinggi dan posisi yang paling dekat dengan singgasana Tuhan.
Di tengah deru dunia yang semakin bising dan menyesakkan, Isra Mi’raj memberikan perspektif baru bahwa solusi atas beban hidup tidak selalu harus dicari di atas tanah. Allah SWT mengingatkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 45:
“ Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
Peringatan Isra Mi’raj tahun ini menjadi momentum refleksi kolektif untuk mempertanyakan kembali kualitas ibadah kita. Apakah shalat selama ini baru sebatas rutinitas fisik yang hampa, atau sudah menjadi perjalanan ruhani yang membebaskan jiwa dari penjara dunia.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa selalu ada jalan keluar di langit bagi mereka yang merasa sesak di bumi. Dengan memperbaiki kualitas "Mi’raj" lima waktu, setiap individu diharapkan mampu membawa pulang kedamaian langit untuk diterapkan dalam nilai-nilai kemanusiaan di bumi.(Intan2026)