Isra Mi’raj: Risalah Langit tentang Shalat dan Martabat Kemanusiaan
16 January 2026 | Intan | 10 kali dilihat
STIKES ISFI | OPINI. Tanggal 27 Rajab selalu hadir sebagai simpul sejarah dan spiritualitas umat Islam. Pada malam yang agung itu, Nabi Muhammad SAW dipanggil menghadap langsung oleh Allah SWT dalam peristiwa Isra Mi’raj—sebuah perjalanan yang melampaui batas ruang dan nalar manusia. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, Rasulullah tidak hanya menyaksikan tanda-tanda kebesaran Ilahi, tetapi juga menerima sebuah amanah yang menjadi poros kehidupan beriman: shalat.
Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa. Ia adalah pesan langit yang sarat makna, yang relevansinya tak pernah usang oleh waktu. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern—ketika manusia kerap kehilangan arah, terjebak rutinitas, dan terasing dari makna—Isra Mi’raj mengajak kita berhenti sejenak, menengadah, dan bertanya: di manakah posisi shalat dalam hidup kita?
Al-Qur’an mengabadikan peristiwa ini dengan penuh keagungan: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami” (QS. Al-Isra: 1). Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah kehendak Ilahi, bukan ilusi atau mitos. Ia adalah tanda, dan setiap tanda selalu mengandung pesan yang menuntut perenungan.
Yang paling monumental dari Isra Mi’raj adalah turunnya perintah shalat. Berbeda dengan syariat lain yang disampaikan melalui perantaraan malaikat Jibril, shalat dianugerahkan langsung oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya. Tidak ada hijab perantara, tidak ada jarak simbolik. Ini menunjukkan betapa shalat menempati kedudukan istimewa dalam bangunan Islam. Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan dialog langsung antara hamba dan Tuhannya.
Dalam shalat, manusia berdiri sejajar—tanpa sekat status sosial, jabatan akademik, atau gelar duniawi. Semua tunduk dalam satu barisan, menghadap kiblat yang sama, menyebut nama Tuhan yang sama. Di sanalah martabat kemanusiaan ditegakkan. Allah SWT berfirman: “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (QS. Thaha: 14). Shalat adalah ruang ingat—pengingat akan tujuan hidup, akan keterbatasan manusia, dan akan kehadiran Tuhan dalam setiap denyut aktivitas.
Bagi civitas akademika, hikmah Isra Mi’raj memiliki resonansi yang sangat kuat. Dunia akademik menuntut nalar kritis, kerja keras, dan pencapaian intelektual. Namun, Isra Mi’raj mengingatkan bahwa setinggi apa pun ilmu melangit, ia harus berpijak pada fondasi spiritual. Shalat menanamkan disiplin waktu, kejernihan berpikir, dan kejujuran nurani—nilai-nilai yang justru menjadi prasyarat lahirnya ilmu yang bermakna dan berkeadaban.
Lebih jauh, shalat mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Ia memulihkan energi batin, menenangkan kegelisahan, dan menata ulang orientasi hidup. Tidak berlebihan jika Al-Qur’an menegaskan: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Ketika shalat dijaga dengan kesadaran, ia membentuk karakter—jujur dalam penelitian, amanah dalam pengabdian, dan rendah hati dalam prestasi.
Isra Mi’raj juga mengandung pesan ketangguhan. Peristiwa ini datang setelah fase berat dalam kehidupan Rasulullah: kehilangan orang-orang tercinta dan tekanan dakwah yang luar biasa. Namun justru dalam kondisi terendah itu, Allah mengangkat derajat Nabi setinggi-tingginya. Ini adalah pelajaran penting: bahwa kesulitan bukan akhir, melainkan pintu menuju kedewasaan spiritual. Shalat hadir sebagai penopang di tengah ujian, sebagai jembatan antara bumi yang berat dan langit yang penuh harap.
Maka, memperingati 27 Rajab seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia adalah momentum evaluasi: sudahkah shalat kita menjadi sumber kekuatan, atau sekadar rutinitas yang hampa? Sudahkah ia membimbing etika belajar, bekerja, dan melayani sesama? Isra Mi’raj memanggil kita untuk menghidupkan shalat—bukan hanya dikerjakan, tetapi dihayati.
Di tengah tantangan zaman, mari menjadikan shalat sebagai kompas moral dan spiritual. Dari sajadah, kita bangun integritas; dari rukuk dan sujud, kita rawat kerendahan hati; dari doa, kita kuatkan harapan. Semoga semangat Isra Mi’raj menumbuhkan insan akademik yang cerdas akal, lembut hati, dan teguh nilai—insan yang berjalan di bumi dengan kaki ilmu, namun hatinya senantiasa terhubung dengan langit. Wallahualambishawab | yugs2026