Tembus Batas Laboratorium: iChip dan Misi Penemuan Antibiotik Baru dari Lahan Gambut Kalimantan
06 January 2026 | Intan | 25 kali dilihat
BANJARMASIN | STIKES ISFI NEWS. Resistensi antibiotik yang kian meningkat secara global mendorong perlunya pencarian sumber antibiotik baru yang lebih efektif dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, dosen dan tim peneliti STIKES ISFI Banjarmasin melakukan riset berbasis mikroorganisme tanah gambut Kalimantan dengan memanfaatkan teknologi iChip (Isolation Chip) sebagai pendekatan inovatif dalam penemuan kandidat antibiotik baru.
Penelitian ini dipimpin oleh Guru Besar Emeritus STIKES ISFI Banjarmasin, Prof. Dr. Apt. Subagus Wahyuono, M.Sc., seorang pakar di bidang isolasi bahan alam dan natural product research, serta lulusan Ph.D dari Arizona, Amerika Serikat. Kepakaran Prof. Subagus menjadi fondasi utama dalam eksplorasi potensi mikroorganisme lokal yang selama ini sulit dikembangkan melalui metode laboratorium konvensional.
Tanah gambut Kalimantan dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki keanekaragaman mikroba yang sangat tinggi namun belum banyak dieksplorasi. Banyak mikroorganisme tanah tidak dapat tumbuh di media laboratorium biasa, sehingga potensi senyawa bioaktif yang dimilikinya belum tergali secara optimal. Melalui teknologi iChip, mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan langsung di lingkungan alaminya, sehingga peluang menemukan senyawa antibiotik baru menjadi lebih besar.
Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi mikroorganisme tanah gambut yang berpotensi menghasilkan senyawa antimikroba, sekaligus mendukung pengembangan obat berbasis sumber daya hayati Indonesia. Riset ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah terhadap upaya global dalam mengatasi krisis resistensi antibiotik yang semakin mengkhawatirkan.
Penelitian dilakukan secara multidisiplin dengan melibatkan tim peneliti STIKES ISFI Banjarmasin dari berbagai bidang keilmuan. Tim tersebut terdiri dari Khallista Noor Khalida dan Regina Nastasya sebagai junior researcher, apt. Tedi Rustandi, M.Farm pada bidang analisis komputasi dan drug discovery, Abdul Mahmud Yumassik, M.Farm pada analisis pasar dan farmakoekonomi, serta apt. Nordin, M.Farm pada bidang kimia medisin dan etnofarmakognosi. Kolaborasi lintas institusi juga melibatkan Permono Adi Putro dari Universitas Mandiri Subang di bidang material science dan engineering.
Selain itu, penelitian ini turut membuka ruang kolaborasi dengan dunia industri melalui keterlibatan PT Nanotech Indonesia Global Tbk, sebagai upaya menjembatani hasil riset akademik dengan potensi pengembangan dan hilirisasi di masa depan. Sinergi ini menjadi bagian penting agar riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga dapat memberikan dampak nyata bagi sektor kesehatan.
Secara institusional, riset ini mempertegas peran STIKES ISFI Banjarmasin sebagai perguruan tinggi kesehatan yang aktif menghasilkan karya ilmiah berbasis riset dan potensi lokal. Keterlibatan dosen sebagai peneliti utama menunjukkan komitmen kampus dalam mendorong pengembangan ilmu kefarmasian dan inovasi kesehatan yang relevan dengan kebutuhan nasional.
Sebagai upaya diseminasi pengetahuan kepada masyarakat luas, proses dan gagasan besar penelitian ini juga dituangkan dalam sebuah film dokumenter ilmiah yang dapat diakses publik melalui kanal YouTube. Dokumenter tersebut menjadi sarana edukasi tambahan bagi masyarakat yang ingin memahami lebih jauh potensi tanah gambut Kalimantan dan inovasi teknologi iChip dalam penemuan antibiotik baru.(wps2026)