Sinergitas STIKES ISFI dan DPPKBPM Banjarmasin Siapkan Anak Muda Hadapi Isu Kependudukan
06 April 2026 | Intan | 185 kali dilihat
Banjarmasin | STIKES ISFI News. Kolaborasi nyata antara dunia pendidikan dan pemerintah kembali terjalin melalui kegiatan Pertemuan Sinergitas Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) yang diselenggarakan pada Senin (6/4/2026) di lingkungan STIKES ISFI Banjarmasin. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara STIKES ISFI Banjarmasin dan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPKBPM) Kota Banjarmasin.
Sosialisasi dan penyuluhan ini diikuti oleh mahasiswa angkatan 2024 dari Program Studi D3 Farmasi serta S1 Farmasi Klinis dan Komunitas. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang edukasi, tetapi juga bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat melalui peningkatan literasi kependudukan di kalangan generasi muda.
Dalam sambutannya, Ketua Senat STIKES ISFI Banjarmasin, apt. Yugo Susanto, S.Si., M.Pd., M.Farm., menegaskan bahwa paradigma program keluarga berencana kini telah berkembang. Jika dahulu fokus utama adalah pembatasan kelahiran dengan slogan “dua anak lebih baik”, kini pendekatannya jauh lebih luas dan berkualitas, yaitu membangun ketahanan serta kualitas keluarga. Menurutnya, sinergi ini sangat relevan dengan bidang kesehatan dan menjadi bagian strategis dalam mendukung pembangunan generasi yang unggul.
Sementara itu, Kepala DPPKBPM Kota Banjarmasin, Drs. M. Helfiannoor, M.Si., menyampaikan bahwa Indonesia tengah bersiap menyongsong bonus demografi menuju generasi emas. Program Bangga Kencana bukan lagi sekadar mengatur jumlah anak, tetapi membangun kualitas keluarga sejak tahap perencanaan pernikahan. Ia berharap mahasiswa dapat mengambil peran aktif, bahkan melalui langkah-langkah sederhana seperti edukasi di lingkungan sekitar maupun melalui media sosial. Menurutnya, perubahan besar sering kali berawal dari kontribusi kecil yang konsisten.
Materi semakin komprehensif dengan paparan dari narasumber BKKBN, Sopyan, S.Sos., M.A., yang menekankan pentingnya kesiapan biologis dan gizi sebelum memasuki pernikahan. Ia menjelaskan bahwa struktur anatomi perempuan, khususnya tulang panggul, umumnya mencapai kesiapan optimal pada usia sekitar 20 tahun. Kehamilan di usia terlalu muda berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti perdarahan dan kematian bayi.
Mahasiswa juga diberikan pemahaman praktis, seperti pentingnya mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA) bagi calon pengantin perempuan. Jika kurang dari 25 cm, hal tersebut dapat menjadi indikator kekurangan gizi dan perlu diperbaiki sebelum menikah. Pesan yang ditekankan bukanlah larangan menikah, melainkan pentingnya persiapan agar ibu sehat dan bayi selamat.
Tidak hanya perempuan, kesiapan laki-laki pun menjadi sorotan. Disampaikan bahwa tiga bulan sebelum menikah, calon suami dianjurkan berhenti merokok dan menghindari minuman bersoda. Perbedaan kualitas sperma antara perokok dan non-perokok disebutkan signifikan, sehingga pola hidup sehat dan konsumsi protein yang cukup menjadi bagian penting dalam perencanaan keluarga.
Dalam sesi tersebut juga ditegaskan bahwa pencegahan stunting tidak dimulai saat bayi lahir, melainkan sejak masa persiapan pernikahan. Bayi dengan berat lahir kurang dari 2,5 kilogram berisiko mengalami gangguan pertumbuhan. Oleh karena itu, kesiapan fisik, mental, dan nutrisi calon orang tua menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.
Pertemuan sinergitas ini menjadi bukti bahwa STIKES ISFI Banjarmasin dan Pemerintah Kota Banjarmasin berjalan beriringan dalam mempersiapkan generasi emas. Dengan pembekalan yang komprehensif mengenai perencanaan keluarga, kesehatan reproduksi, dan pencegahan stunting, mahasiswa diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menjadi agen perubahan yang berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.(wps2026)
info pendaftaran PMB & PSPPA:
https://pmb.stikes-isfi.ac.id/isfi/pmb
https://psppa.stikes-isfi.ac.id/